Selamat Hari Raya IDUL FITRI 1 Syawal 1441 H - Mohon Maaf Lahir dan Batin

Headlines!

Jubir Kemenhub: Masyarakat Diminta  Tunda Mudik

Posted by: On Mei 14, 2020



Jakarta, Cakra Bhayangkara News -Mudik menjadi tradisi masyarakat Indonesia terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Namun, dengan  adanya pandemi Covid-19 tampaknya harus menjadi perhatian masyarakat Indonesia, karena mudik  berpotensi mempercepat penularan Covid-19. 

Fenomena mudik di tengah pandemi Covid-19 merupakan tantangan yang harus dihadapi segenap masyarakat Indonesia . Pada kesempatan ini, Adita Irawati, Jubir Kemenhub menyampaikan pesan kepada masyarakat agar mendukung upaya Pemerintah guna memutus mata rantai  penularan Covid-19. Hal tersebut disampaikannya saat talkshow di Jakarta Selatan,  Kamis (14/5).


Juru Bicara Kemenhub, Adita Irawati menyampaikan memasuki pekan mudik, sosialisasi dan pendekatan serta membangun kesadaran pada masyarakat untuk tidak mudik tentunya sangat diperlukan, sehingga tidak membawa virus ketika mudik. Selain itu, pemerintah daerah juga telah melakukan PSBB, sehingga para pemudik justru akan melakukan isolasi mandiri. Mereka menjadi ODP dan masuk dalam karantina, sehingga mudik terbilang sia-sia karena tidak dapat bertemu orang lain, bersilaturahmi, dan sebagainya.

"Strategi atau langkah yang ditempuh Kemenhub dalam menekan masyarakat untuk melakukan mudik yakni memperkuat koordinasi antar lembaga pemerintah dan Gugus Tugas Covid-19 yang berada di lapangan untuk memperkuat dan memperketat serta tidak mentolerir masyarakat yang ngotot melaksanakan mudik. Tim gabungan di lapangan tersebut aktif memproses informasi yang disampaikan masyarakat untuk menekan angka mudik, khususnya pelanggaran pada moda transportasi," pungkasnya.(Romi)

Minimalisir Penyebaran Corona, LPSK Laksanakan Rapat Koordinasi Melalui Konferensi Video

Posted by: On Maret 16, 2020



Jakarta, Cakra Bhayangkara News —Sekretaris Jenderal Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Noor Sidharta melakukan rapat koordinasi dengan Sekretaris Jenderal Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan Ainun Na’im beserta jajarannya melalui konferensi video, Senin pagi, (16/3). Rapat digelar guna membahas kerja sama kedua lembaga terkait layanan psikososial bidang pendidikan bagi korban tindak kejahatan.

Noor Sidharta menjelaskan bahwa LPSK hingga saat ini tetap menjalankan aktivitas seperti biasa ditengah ancaman penyebaran virus corona atau Covid-19, hanya saja agar penyebaran virus tidak semakin meluas, LPSK mengantisipasinya dengan cara inovatif. Salah satunya adalah menggelar rapat secara virtual.

“Selain untuk mengurangi potensi penularan virus corona, hikmah lainnya adalah membuat kami lebih kreatif. Rapat dengan video selain tetap efektif, juga lebih efisien dari segi waktu dan sumber daya” ujar Noor

Terlepas dari sedang maraknya penyebaran Covid-19, Noor berharap ke depan, aktivitas semacam ini bisa menjadi contoh dan lifestyle setiap lembaga maupun instansi dalam berkoordinasi agar muncul akselerasi pengambilan keputusan.  

Dalam rapat koordinasi itu sendiri, LPSK meminta pihak Kemendikbud untuk turut membantu memberikan bantuan rehabilitasi psikososial dalam bidang pendidikan, kepada sejumlah anak yang menjadi korban tindak pidana seperti korban terorisme dan kekerasan seksual. 

Setidaknya ada lima permohonan yang dilayangkan LPSK, diantaranya kemudahan bagi korban untuk mendapatkan akses Program Indonesia Pintar, permohonan beasiswa, kemudahan bagi korban untuk berpindah sekolah, bantuan alat penunjang belajar hingga akses pendidikan melalui program Kejar Paket A dan B.

Selain itu, dalam kesempatan ini LPSK menyampaikan sejumlah informasi kerja sama yang telah dilakukan antar kedua instansi, diantaranya kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan LPSK ke kampus-kampus, terutama di Papua.

Menanggapi hal tersebut, Ainun menyambut positif permohonan LPSK. Dirinya mengatakan pihaknya akan mengakomodir permohonan bantuan psikososial kepada sejumlah korban yang masuk dalam kategori pelajar atau mahasiswa. Ainun juga mengatakan pihaknya sangat mendukung kegiatan LPSK yang menyasar kampus-kampus.

“Mohon agar data (korban) bisa dikirimkan ke kami, semuanya bisa mulai dilaksankan pada awal tahun ajaran baru” pungkasnya

HUMAS LPSK
Jalan Raya Bogor KM 24 no 47-49, Jakarta Timur 13750
Email : lpsk_ri@lpsk.go.id  
Facebook : Lpsk RI 
Twitter : @infolpsk  
Instagram : Info LPSK
Website : www.lpsk.go.id 
Call Center : 148

(Red)

Sastrawati Ayu Utami : Ancaman Bukan Dari Pemerintah Tapi Dari Civil Society

Posted by: On Maret 01, 2020



Jakarta, Cakrq Bhayangkara News -  Sastrawati Ayu Utami mengatakan ancaman saat ini bukan dari pemerintah namun dari civil society yang mengatasnamakan agama. Dulu Indonesia bangsa yang sangat toleran dan bisa mengolah intoleran dengan damai. Namun saat ini seperti kehilangan cara untuk menangkal radikalisme
Oleh sebab itu Ayu Utami mengajak masyarakat untuk menggunakan kearifan Nusantara untuk tangkal radikalisme yang selalu mengatasnamakan agama tertentu.


Hal tersebut terungkap dalam bincang seni dan budaya dengan tema “Tangkal Radikalisme Melalui Sastra Dan Budaya di Teater Utan Kayu Jakarta, Sabtu 29/2/2020.

Sastrawati Ayu Utami mengatakan berdasarkan risetnya penyatuan pertentangan tanpa mengubah pertentangan sama dengan DNA Nusantara. Dengan begitu, Kearifan Nusantara dapat menjadi kekuatan Indonesia untuk dapat menangkal ancaman radikalisme yang selalu mengatasnamakan agama dengan kelompok tertentu.

Menggali kearifan nusantara dengan mencari batin nusantara dapat mempersatukan pertentangan tanpa mengubah pertentangan, ujar Ayu.

Konsep “Rasa” dengan melakukan “Jihad Rasa”, dapat menjadi solusi bagi masyarakat untuk dapat secara bersama – sama melawan radikalisme yang menjadi keprihatinan bangsa Indonesia saat ini, kata Ayu.


Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Restu Gunawan mengatakan kebudayaan merupakan kekuatan yang memiliki pengaruh besar sehingga dapat digunakan untuk menangkal radikalisme di Indonesia.

Berdasarkan data tahun 2018 kementerian pendidikan dan kebudayaan, sekitar 34 juta pelajar mengakses konten negatif di media sosial termasuk konten tentang radikalisme, ujar Restu.


Dengan begitu, pentingnya kebudayaan menjadi salah satu solusi untuk dapat menangkal radikalisme yang mengatasnamakan agama agar Indonesia tetap kuat dengan keanekaragaman yang ada.

Kekuatan budaya Indonesia terdiri dari 4521 tradisi lisan, 7444 pemgetahuan tradisional, 8224 bentuk kesenian, 21406 institusi budaya, dan 19113 infrastuktur budaya, tutup Restu.(JD)

Pangdam II/Sriwijaya Bersama Forkopimda Provinsi Babel Sambut Kedatangan Wakil Presiden RI Dan Rombongan

Posted by: On Februari 26, 2020



Pangkalpinang, Babel, Cakra Bhayangkara News - Wakil Presiden (Wapres) RI KH. Ma'ruf Amin melakukan kunjung ke Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung dalam rangka meresmikan pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VII Tahun 2020 di Ballroom Novotel Bangka Hotel and Convention Center, Rabu (26/2/2020)

Dalam kesempatan tersebut, Wapres didampingi Ibu Wury Ma'ruf Amin terbang dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur menggunakan Pesawat Khusus Kepresidenan Boeing 737-400 TNI AU.

Wapres dan rombongan tiba di Bandar Udara Depati Amir, Bangka Belitung dan disambut langsung oleh Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Irwan, S.I.P., M. Hum.,  Gubernur Kepulauan Babel Erzaldi Rosman dan Kapolda Babel serta beberapa unsur Forkopimda Kep. Bangka Belitung, Rabu (26/2/2020) pukul. 14.00 WIB.

Tidak menunggu lama, rombongan Wapres pun langsung berangkat menuju Balitong Resort, Pantai Pasir Padi untuk mengikuti kegiatan Dialog Program Pencegahan Stunting. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan peninjauan Bumdes dan UMKM.

Selanjutnya Wapres beserta Ibu Wury Ma'ruf Amin dan rombongan beranjak ke Novotel Bangka Hotel Jalan Soekarno Hatta, Pangkal Pinang, Kabupaten Bangka Tengah untuk menghadiri acara Kongres Umat Islam Indonesia VII Tahun 2020.


Wapres juga akan membuka secara resmi Kongres Umat Islam Indonesia VII Tahun 2020 sebagai agenda lima tahunan yang akan merumuskan arah baru perjuangan umat Islam Indonesia di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, hukum, filantrofi, dan beberapa hal lainnya.

Acara kongres yang bertajuk "Strategi Perjuangan Umat Islam Indonesia dalam Mewujudkan NKRI yang Maju, Adil, dan Beradab" ini dihadiri sekitar 800 orang peserta kongres yang terdiri dari Dewan Pimpinan Pusat MUI dan Dewan Pertimbangan MUI, Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, Kanwil Kementerian Agama se-Indonesia, Pondok Pesantren, dan lembaga filantropi.

Dalam kunjungan kerja ke Bangka Belitung, turut mendampingi Wapres di antaranya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali, Kepala Sekretariat Wakil Presiden Muhammad Oemar dan beberapa Staf Khusus Wapres serta Tim Ahli Wapres.

Sekitar 1.000 personil gabungan TNI-Polri Kepulauan Bangka Belitung disiapkan dalam rangka pelaksanaan pengamanan kunjungan kerja Wapres RI dan rombongan di Pangkal Pinang, Kep. Babel..(Romi)

*--------- o0o --------*

Menteri SYL Pacu Sektor Pertanian Terapkan Hasil Penelitian

Posted by: On Februari 25, 2020



Bogor, Cakra Bhayangkara News -Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo kembali mengukuhkan dua professor atas keberhasilan menjadi Profesor Riset, masing-masing dalam bidang hama dan penyakit tanaman untuk inovasi teknologi pengendalian tikus dan teknologi proses pascapanen buah tropis untuk standart eksport. Mentan juga turut menantang para professor untuk menerapkan hasil riset sehingga berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani kita.

"Saya memberikan tantangan kepada Saudara Prof. Dr. Ir. Setyadjit, M.App.Sc, untuk dapat menyusun rancangan program dalam meningkatkan produksi dan kualitas buah tropis kita sesuai standar ekspor yang berlaku, dan pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan pendapatan petani kita" kata Syahrul dalam sambutannya di Auditorium Utama Ir.Sadikin Sumintawikarta Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor,Selasa (25/02/20).

Menurut SYL, research menjadi sangat penting karena pertanian dan pemuliaan bibit menjadi bagian-bagian terpenting untuk bisa mendapatkan hasil pertanian yang maksimal. Kita mempunyai penduduk 267 juta orang yang membutuhkan seluruh komoditi pertanian kalau kita tidak mau impor dan lain-lain sebagainya adalah kita harus bijak. 

"Salah satunya adalah terus memperbaiki hasil research kita sehingga kita mendapatkan kualitas-kualitas dan penyisihan-penyisihan agroklimat dari masing-masing potensi lahan yang kita miliki. Itu membutuhkan research,"ucap Mentan.

Syahrul mengungkapkan bahwa acara orasi pengukuhan tersebut bertepatan dengan dua momentum yang sangat penting dalam kebijakan IPTEK Nasional, terutama terkait penataan kelembagaan strategis. Sebagai implementasi dari UU No.11/2019 tentang Sistem Nasional IPTEK, pemerintah telah membentuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

"Sesuai dengan Perpres No. 74 /2019 yang kemudian diubah dengan Perpres No.95/2019 BRIN mempunyai tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi,"ucap SYL.


Syahrul juga mengharapkan Profesor Riset yang baru dikukuhkan dapat lebih berperan aktif menjadi pembina dan motivator bagi para peneliti yang lebih muda, baik dalam bidang kepakaran, maupun dalam pengembangan jati-diri, integritas serta profesionalisme mereka.

"Saya sampaikan penghargaan dan selamat kepada jajaran keluarga kedua Profesor Riset, yang telah memberikan kontribusi dan pengorbanan yang besar dalam mendukung karir dan pencapaian prestasi para Profesor Riset yang dikukuhkan,"ungkapnya.

Dikesempatan yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si mengatakan jika inovasi yang dilakukan terkait pengendalian hama tikus dapat mengurangi losis dengan pasca panen. Sehingga hasil riset terkait inovasi teknologi pengendalian tikus sangat penting untuk diterapkan oleh masyarakat.

"Bertani itu sekarang kan dibeberapa daerah ada yang terserang tikus dan salah satu terobosan yang disampaikan Dr. Sudarmaji tadi jadi salah satu solusi memecahkan masalah pengendalian tikus secara bioekologi. Dan ini sudah lama kita lakukan tinggal menunggu dilakukan secara masif dilapangan,"ucap Fadjry.

Menurutnya paling penting melakukan antisipasi atau early warming system. Bagaimana bisa mendeteksi secara cepat sehingga sebelum serangan itu sudah dilakukan pengendalian dan hal tersebut juga sudah dimulai dengan Dirjen teknis Kementerian Pertanian.

"Sehingga paling tidak jangan cepat penyebaran serangan tikus ini, kita bisa lebih awal mengendalikan ini," ucapnya.

Terkait inovasi teknologi proses pascapanen buah tropis ditujukan untuk memperpanjang daya simpan buah tropis. Menurutnya pertanian punya potensi buah tropis yang sangat melimpah di Indonesia, persoalannya daya simpannya tidak lama. Selain itu, semua produk pengiriman lewat kapal laut dan perlu waktu dua minggu sampai satu bulan supaya barang diterima.

"Sehingga memang perlu ada teknologi bagaimana memperlama daya simpan sehingga sampai negara tujuan itu kualitasnya masih terjaga, mutunya masih bagus sehingga nilai jualnya masih bagus. Ini yang tadi dibicarakan itu,"tukas Fadjry.

Sekedar informasi kedua professor yang dikukuhkan yakni Prof. Dr. Ir. Setyadjit, M.App.Sc untuk inovasi teknologi proses pascapanen buah tropis untuk pemenuhan standar ekspor dan Prof.Dr.Drs.Sudarmaji,MP untuk inovasi teknologi pengendalian hama tikus terpadu berbasis bioekologi untuk pengamanan produksi padi nasional.(Teguh)

Mentan Ajak Forum Rektor Gelorakan Kedaulatan Pangan

Posted by: On Februari 25, 2020



Bogor, Cakra Bhayangkara  News - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak Forum Rektor Indonesia (FRI) menggerakan seluruh komponen bangsa agar turut serta dan terlibat langsung dalam gerakan pembanguan pertanian nasional. Hal ini disampaikan Mentan saat menghadiri Fokus Grup Diskusi Aliansi Kebangsaan yang digelar di Auditorium Andi Hakim IPB Dramaga Bogor, Selasa, 25 Februari 2020.

"Sebenarnya saya mau dengar apa sih yang menjadi keinginan rektor untuk membangun pertanian yang lebih baik ini. Kalau begitu kita harus bersama-sama membangun pertanian ini sebagai sebuah gerakan bersama," kata Mentan Selasa pagi.


Menurut Mentan, gerakan bersama wajib dilakukan karena sektor pertanian sangat erat dengan kebutuhan pokok yang menjadi konsumsi masyarakat Indonesia sehari-hari. Disisi lain, pertanian juga berkaitan langsung pada penyelesaian angka pengangguran karena adanya lapangan pekerjaan yang pasti.

"Dan saya berharap IPB membackup kami (Kementan) di lima tahun ke depan. Sebab, sektor pertanian itu membuat orang pasti tidak akan miskin. Pertanian tidak ada yang gagal jika kita tidak salah manajemen," katanya.

Untuk diketahui, saat ini Kementan memiliki kelembagaan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) dan Agriculture War Room (AWR) sebagai pusat data dan pusat gerakan yang ada di setiap Desa.

"Keduanya bisa kita gunakan sebagai alat gerakan bersama. Apalagi kita sudah menggunakan online sistem, digital sistem dan teknologi canggih lainya. Sebab kalau tidak, kita akan susah mengurai masalah yang ada di bangsa ini," katanya.

Rektor IPB, Arif Satria mengaku siap untuk terlibat langsung pada gerakan tersebut. Kata Arif, gerakan pertanian sangat dibutuhkan untuk mendukung berbagai upaya pemerintah dalam memenuhi kecukupan pangan nasional.

"Saya kira isu pangan adalah isu yang uptudate, juga isu yang abadi dan harus kita bangun bersama melalui gerakan pertanian. Apalagi Kementan sekarang memimi AWR untuk menguatkan data kita agar semakin kuat. Tentu kita ingin membangun government government yang lebih baik dengan berbasiskan data yang lebih baik," tandasnya.(Teguh)

Diskusi Publik IPB, Mentan SYL: Pengetahuan Mahasiswa Pertanian Harus Berguna Di Desa

Posted by: On Februari 25, 2020



Bogor, Cakra Bhayangkara News - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta perguruan tinggi untuk bersinergi membangun pertanian, salah satinya dengan pengetahuan dari para mahasiswa pertanian dapat berguna hingga sampai di level desa. Selain itu, mahasiswa juga harus diajak menjadi bibit petani milenial dengan membangun pertanian menggunakan teknologi yang semakin hari semakin canggih sehingga ilmu yang didapatkan dari kampus bisa dipraktekan di lapangan.

"Dengan resolusi yang dekat dari satelit yang kita yang kita miliki maka kita bisa lihat sebenarnya daerah mana yang akan panen berapa bulan lagi, seperti apa kemampuan hara yang ada di daerah dan ini semua harus dipelajari IPB. IPB harus ada di setiap desa , kampus pertanian harus ada disetiap tiap daerah minimal ilmunya bisa berguna di desa," kata Syahrul dalam acara Diskusi Publik Dalam Penguasaan dan Pengembangan Inovasi Teknologi Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional, di Auditorium Gedung Andi Hakim Nasoetion IPB, Selasa(25/02/19).


Mantan Gubernur Sulawesi Selatan ini menjelaskan penguasaan dan pengembangan inovasi teknologi pertanian yakni sangat penting meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani. Sebab, bicara pertanian adalah langsung menyangkut aspek dasar menghidupkan masyarakat yang maju dan rumah tangga yang sejahtera. 

"Bicara pertanian juga menemukan solusi harapan dan kebutuhan pangan, tidak hanya tugas pemerintah tapi melibatkan semua pihak. Dengan begitu, pertanian merupakan sebuah gerakan bersama membangun kebutuhan bangsa dan menyadarkan semua orang yang memliki kepentingan publik untuk sama-sama membangun pertanian," jekasnya.

Oleh karena itu, SYL sangat berharap adanya konsep pembangunan pertanian modern dari perguruan tinggi. Diskusi publik ini sangat penting untuk menemukan solusi dan harapan baru dalam membangun pertanian berbasis teknologi modern untuk menyediakan kebutuhan pangan bagi bangsa dan negara secara berdaulat.

"Cara membangun pertanian tidak boleh lagi menggunakan cara sebelumnya, tapi harus memakai cara berbasis teknologi digital, dan mekanisasi yang canggih," ujarnya.

*Peran Perguruan Tinggi*

SYL menegaskan perguruan tinggi terhadap pertanian harus mampu menjawab tantangan pertanian saat ini. Kementerian Pertanian (Kementan) bersama perguruan tinggi pertanian harus melakukan perubahan yang lebih baik dalam meningkatkan produksi pangan. Pasalnya, masalah pertanian dan paradigma-paradigma pertanian sudah bergeser dan harus menemukan cara-cara baru.

"Ada tiga aspek agenda besar yang bisa dilakukan pertanian. Pertama agenda mindset dengan akademik intelektual sesuai tantangan era dan yang harus terjadi antara lain dengan menggunakan online sistem, digital sistem, frekuensi titik-titik dan mekanisasi baik," tegasnya.

"Artificial intelijen, internet of thinking sistem dan segala macam sistem yang harus ada," tambahnya.

Menurut SYL, Agenda management harus berubah. Dengan demikian, tujuan pertanian harus makin maju, mandiri, makin modern. Tantangan untuk Indonesia adalah produksi, distribusi, logistik yang tinggi karena di antara pulau. 

"Tantangan ini harus bisa kita peroleh jalan keluarnya dengan kemampuan lain. Produk pertanian kita harus ditingkatkan dengan cara ini dimana agenda intelektual dimainkan lebih kuat manajemen agenda kita coba lebih ke bawah ke lapangan jangan terlalu banyak teorinya lapangannya kemudian mendorong KUR untuk investasi yang besar," ungkap Syahrul.

Di kesempatan tersebut, Rektor Institut Pertanian Bogor, Arif Satria sangat mengapresiasi langkah-langkah Kementan di bawah komando Syahrul Yasin Limpo dalam memperbaiki basis data sebagai salah satu upaya meningkatkan produksi hasil pertanian. Menurutnya adanya AWR yang saat ini berada di Kementan menjadi langkah terupdate dalam membantu pemantauan permasalahan pertanian hingga kecamatan dan desa.

"Isu pangan selalu update, karena isu yang abadi di dunia adalah soal pangan. Ada indeks ketahanan pangan, isu kemiskinan, isu kelaparan dan regenerasi petani. Dengan data yang baik, bisa turut menghasilkan keputusan yang baik. Keseimbangan antara teknologi dan aliansi bisa lebih baik sehingga bisa membangun pertanian lebih baik," terangnya.

Selain itu, Arif Satria pun mendukung penuh penerapan program Pertanian Masuk Sekolah (PMS) yang dijalankan Kementan sebagai jalan keluar atas minimnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian. Program tersebut, bisa menjadi kunci majunya pertanian Indonesia yang berjalan secara mandiri dan modern.

"Memang seharunya program PMS itu ada dimana-mana karena kalau bicara pertanian tidak boleh berada di menara gading yang terlalu asik dengan teori dan diskusi. Akan tetapi, anak-anak kita juga harus belajar konsep, teori dan definisi praktek di lapangan," 

Arif Satria pun mengapresiasi kelembagaan Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani) dan pusat data Agriculture War Room (AWR) yang dibangun Kementan secara singkat. Menurutnya, dari aspek intelektual, kedua terobosan ini patut diapresiasi karena erat kaitannya dengan dunia teknologi yang sedang dikembangkan kampus IPB.

"Saya melihat, hitung-hitungan area lahan melalui satelit dan artificial intelligence itu adalah agroklimat yang sangat bagus karena bisa membaca data secara cepat tentang berbagai hal. Misalnya soal berapa area lahan, kapan hujan sampai dengan persediaan pupuk bisa kita lihat dari satu ruangan. Ini sejalan dengan teknologi yang sedang dikembangkan IPB," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Ketua Forum Rektor Indonesia diwakiki sekjen Dr. Darsono,MBA, dan rektor perguruan tinggi negri dan Swasta serta mahasiswa Institut Pertanian Bogor.(Teguh)