Headlines News :
Home » » Ketua Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ), Frans.S : Ali Mazi Juga Pelaku Jual Beli Jabatan

Ketua Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ), Frans.S : Ali Mazi Juga Pelaku Jual Beli Jabatan

Friday, June 28, 2019



Jakarta, Cakrabhayangkara News-Tak cukup dengan pat gulipat pengurusan perpanjangan Hotel Sultan, Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Ali Mazi disebut-sebut menyalahgunakan wewenanngya untuk melakukan jual beli jabatan.



Hal ini disampaikan ketua Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) dalam orasinya di depan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Jl.Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 28/06-2019.



Ali mazi diduga terlibat dalam jual beli jabatan di era kepemimpinan presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono(SBY), bahkan sampai saat ini Ali Mazi masih melakukan intervensi melalui kroni-kroninya.

Isyu kotor tersebut santer terdengar di Sultra, khususnya di Kota Kendari, tempat beliau memerintah.



"Ali Mazi itu pemain, Orang-orang yang ingin menduduki jabatan tertentu, pasti menghuhungi dia. 

Dengan kewenangan dan kekuasaannya, kan mudah saja dia menentukan jabatan seseorang, tapi tentu saja harus ada imbalannya, " kata Ketua Aliansi Mahasiswa Jakarta, Frans.



Menurut sumber, modus yang dilakukan Ali Mazi dalam melakukan jual beli jabatan, melibatkan orang,-orang dekatnya.

Frans juga menyampaikan dalam wawancaranya bahwa demo kali kedua ini dilakukan agar KPK segera bertindak dalam menangani laporan masyarakat Sulawesi Tenggara, namun apabila demo kedua ini juga tidak ditanggapi oleh KPK, maka frans akan menurunkan lebih banyak lagi massa untuk memperjuangkan ketidak adilan yang dilakukan mantan gubernur Sulawesi Tenggara tersebut.

" kami dari Aliansi Mahasiswa Jakarta (AMJ) akan meburunkan lebih banyak lagi massa, apabila demo kami yang kedua ini tidak di tindak lanjuti," ujarnya kepada wartawan.



Persoalan lain yang mengusik adalah pembangunan dermaga yang terlerak disebelah sekolah SD Boinaga, sehingga mengganggu proses belajar-mengajar di sekolah tersebut. 

Pembangun dermaga yang tidak memiliki Amdal itu dilakukan oleh adik kandung Ali Mazi bernama Sahrin, pemilik perusahaan Tambang PT Daka Group. 



Tidak adanya kajian amdal itu bertentangan dengan perinsip prinsip lingkungan hidup, tetapi terkesan ada pembiaran oleh Dinas ESDM Prop Sulawesi Tenggara sebab perusahaan yang membangun milik adik kandung Gubernur,  sementara perusahaan lain di persulit.

Menurut Hasil Investigasi, isteri Ali Mazi yang bernama Agista, melakukan kutipan liar kepada setiap perusahaan tambang nikel yang akan mengajukan RKAB, harus melakukan Setoran, dengan tiga kategori.



Berdasarkan permintaan kuota yang diajukan dalam rangka penjualan nikel 200- 500 dan satu milyar per satu IUP. Di samping itu, dia juga menekan kepada setiap pemilik IUP bila melakukan nikel ore, harus menyetor 30- 50 jt per tongkang.

Menurut hasil investigasi, saudara kerabat Ali Mazi sudah ditangkap oleh KPK di Bali. Tapi karena ada tekanan dan perlindungan dari elite politik dan pengusaha besar di Republik ini, mereka di bebaskan dan tidak diperiksa lebih lanjut. Bahkan yang bersangkutan berlindung di Kantor DPP salah satu partai besar.



Ali Mazi merupakan orang kuat di Sultra.  Pada periode pertama jabatannya dia pernah dijadikan tersangka oleh KPK dan Kejaksaan Agung dalam kasus perpanjangan HGB Hotel Hilton Jakarta.

Namun Ali Mazi tidak pernah ditahan, dan kembali terpilih dalam Pilkada Sultra tahun 2018.

Frans berharap agar KPK lebih selektif dalam menangani kasus-kasus korupsi di daerah yang melibatkan Pejabat Negara.(Romi)


Share this post :

Post a Comment